Rabu, 06 Juli 2011

Kisah Burung Beo Pak Harto Yang Aneh


Ada beberapa mantan ajudan Pak Harto yang memberikan kisahnya di buku Pak Harto: The Untold Story. Satu di antaranya adalah Mayor Jenderal TNI Issantoso yang menjadi ajudan untuk periode 1995-1998.

Bagi Issantoso, ada satu yang amat dikenangnya, yakni setelah Pak Harto mengundurkan diri pada 20 Mei 1998. Ia menceritakan, di halaman belakang rumah Pak Harto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat, mantan presiden RI ini memelihara seekor burung beo, yang merupakan pemberian seorang teman Pak Harto.

"Burung Beo ini pandai menirukan suara manusia. Melafalkan teks Pancasila, mengucapkan salam, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya," cerita Issantoso. Menurutnya, setiap kali Pak Harto melintas, burung Beo itu akan berteriak nyaring: "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia!".

Pada suatu saat, Pak Harto mendekati sangkar burung beo itu. Seperti biasa sang beo menyambut dengan ocehannya yang khas: "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia, Habibie!" Pak Harto membetulkan ocehan burung tersebut. Tetapi masih saja tidak berubah ocehannya. Hingga akhirnya Pak Harto meninggalkan sangkar beo tersebut, sambil bergumam: "Hmmmm... Dasar beo." Begitu kenang Issantoso.

Tak ada cinderamata yang diterima Mayjen TNI Issantoro usai menjadi ajudan Pak Harto. Tetapi ia memperoleh nasihat yang berharga. Petuah itu adalah: "Jika kamu ingin umur panjang, melayatlah kepada orang mati dan doakan dia. Jika ingin sehat selalu, jenguklah dan bantulan mereka yang sedang sakit. Jika ingin mendapatkan akhirat, dekat-dekatlah pada para kyai dan ulama".

Berita Terkait

0 komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

 
Design by IBENKZ TRILOGY © 2011