Kondisi alam bukit magnet membuat persepsi mata yang salah karena ada garis horizon palsu.
Seperti diberitakan sebelumnya, bahwa fenomena 'medan magnet' yang terjadi di Banyumas, Jawa Tengah, telah dibantah oleh para pakar.
Mereka mengatakan bahwa ini merupakan ilusi visual yang membuat kesan kepada mata bahwa sebuah jalan menurun terlihat seolah-olah sebagai jalan yang menanjak.
Fenomena ini tak hanya ada di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, Situs ensiklopedia online Wikipedia bahkan memiliki data yang cukup lengkap di lokasi mana saja fenomena ini dijumpai.
Dalam sebuah penelitiannya, Paola Bressan, Monica Barracano, dan Luigi Garlaschelli dari Padova University dan Pavia University Italia, berkesimpulan bahwa efek yang lebih dikenal dengan istilah bukit magnet atau bukit anti-gravitasi ini faktanya hanya merupakan ilusi visual.
"Kami menyimpulkan bahwa efek ini terjadi dari sebuah mispersepsi seseorang terhadap gravitasi. Ini disebabkan oleh hadirnya 'garis horizon palsu' di lokasi itu," seperti tertera pada hasil penelitian tertulis mereka.
Penelitian mereka juga menemukan bahwa permukaan miring biasanya akan dipersepsikan lebih rendah daripada bidang horizontal, ketika didahului, atau diikuti, atau diapit oleh sebuah lereng turunan yang curam.

Gambar bukit magnet di Moncton. Di sini terlihat seolah-olah jalanan di depan menanjak (Wikipedia)

Dari arah sebaliknya, terlihat bahwa sebenarnya jalanan itu menurun (Wikipedia)
Mereka yakin, efek ini bisa dibuat ulang secara artifisial tanpa campur tangan gaya magnet, anti-gravitasi, atau 'gaya-gaya misterius' lain.
Seorang ahli mata asal AS, Adelbert Ames, Jr pada 1934 menemukan sebuah tipuan visual yang sedikit banyak mampu menjelaskan fenomena bukit magnet yang terkenal dengan nama 'Ruang Ames'.
Ruang ini didesain sedemikian rupa, sehingga seolah-olah terlihat oleh mata berbentuk seperti kubik, dengan dua sisi dinding paralel serta lantai dan atap yang sejajar.
Padahal, bentuk sebenarnya ruangan ini adalah trapezoidal. Ruangan ini memiliki lantai dan atap yang miring serta salah satu sisinya memiliki tinggi dan panjang yang lebih besar ketimbang sisi lainnya.
Seorang ilmuwan AS bernama Richard Gregory mengatakan bahwa sebuah lokasi di sebuah pegunungan di Skotlandia memiliki komposisi latar belakang pohon yang mirip seperti ruangan Ames, sehingga aliran air di sebuah anak sungainya terlihat seolah-olah menanjak naik.
"Seharusnya sekarang lebih mudah untuk menciptakan efek ini di taman-taman atau museum iptek di mana pun," ungkap Paola Bressan dan kawan-kawan.
• VIVAnews

Salah satu daerah bukit magnet (www.team-bhp.com)
Mereka mengatakan bahwa ini merupakan ilusi visual yang membuat kesan kepada mata bahwa sebuah jalan menurun terlihat seolah-olah sebagai jalan yang menanjak.
Fenomena ini tak hanya ada di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, Situs ensiklopedia online Wikipedia bahkan memiliki data yang cukup lengkap di lokasi mana saja fenomena ini dijumpai.
Dalam sebuah penelitiannya, Paola Bressan, Monica Barracano, dan Luigi Garlaschelli dari Padova University dan Pavia University Italia, berkesimpulan bahwa efek yang lebih dikenal dengan istilah bukit magnet atau bukit anti-gravitasi ini faktanya hanya merupakan ilusi visual.
"Kami menyimpulkan bahwa efek ini terjadi dari sebuah mispersepsi seseorang terhadap gravitasi. Ini disebabkan oleh hadirnya 'garis horizon palsu' di lokasi itu," seperti tertera pada hasil penelitian tertulis mereka.
Penelitian mereka juga menemukan bahwa permukaan miring biasanya akan dipersepsikan lebih rendah daripada bidang horizontal, ketika didahului, atau diikuti, atau diapit oleh sebuah lereng turunan yang curam.
Gambar bukit magnet di Moncton. Di sini terlihat seolah-olah jalanan di depan menanjak (Wikipedia)
Dari arah sebaliknya, terlihat bahwa sebenarnya jalanan itu menurun (Wikipedia)
Mereka yakin, efek ini bisa dibuat ulang secara artifisial tanpa campur tangan gaya magnet, anti-gravitasi, atau 'gaya-gaya misterius' lain.
Seorang ahli mata asal AS, Adelbert Ames, Jr pada 1934 menemukan sebuah tipuan visual yang sedikit banyak mampu menjelaskan fenomena bukit magnet yang terkenal dengan nama 'Ruang Ames'.
Ruang ini didesain sedemikian rupa, sehingga seolah-olah terlihat oleh mata berbentuk seperti kubik, dengan dua sisi dinding paralel serta lantai dan atap yang sejajar.
Padahal, bentuk sebenarnya ruangan ini adalah trapezoidal. Ruangan ini memiliki lantai dan atap yang miring serta salah satu sisinya memiliki tinggi dan panjang yang lebih besar ketimbang sisi lainnya.
Seorang ilmuwan AS bernama Richard Gregory mengatakan bahwa sebuah lokasi di sebuah pegunungan di Skotlandia memiliki komposisi latar belakang pohon yang mirip seperti ruangan Ames, sehingga aliran air di sebuah anak sungainya terlihat seolah-olah menanjak naik.
"Seharusnya sekarang lebih mudah untuk menciptakan efek ini di taman-taman atau museum iptek di mana pun," ungkap Paola Bressan dan kawan-kawan.
• VIVAnews
Berita Terkait
Fenomena
- 7 Jenis Pelangi Yang Ada di Angkasa
- Misteri Pohon Uang Harapan
- Misteri Ka'bah menggegerkan NASA
- Keindahan Air Terjun Yang Membeku
- Foto Awan Aneh Yang Paling Menakjubkan di Dunia
- Fenomena Cahaya Hijau di Permukaan Bulan
- Moon Bow (Pelangi di malam hari)
- Laut Berwarna Pink di Senegal
- 10 Fenomena Alam Paling Mengagumkan Di Dunia
- "Bola Api Naga" di Sungai Mekong
- Fenomena Sepeda Fixie
- Kolam Air Alam Bertingkat di Turki
- Fenomena Bukit Bermagnet di Daerah Madinah
- Tempat Di Bumi yang Tidak Terpengaruh Gaya Gravitasi
- Empat Lubang Misterius Muncul di Maros
- Cahaya Ajaib dari Utara Bumi
- Aneh, Air Sungai Ini Berubah Hijau Terang
- Laut Mati Kini Mulai Terancam Tidak "Mati" Lagi
- Fakta Tentang Kubah Masjid Terbang
- Fenomena Pasir diatas Laut
- Cuaca Aneh Di Dunia
- Tahun baru ribuan burung hitam berjatuhan dari langit...
- Badai Petir Abadi di Venezuela
- 10 Keajaiban Alam yang Luar Biasa
0 komentar:
Posting Komentar